saya memang kepingin bercerita tentang film tapi tak tergerak untuk menulis amatan dan kesan
atas film yang sedang beredar di bioskop. saya tak tertarik berkirim gelembung dan busa. dan,
saya pun tak paham bagaimana menemukan busa, atau bahkan membikin gelembung.

saya cuma punya tak lebih dari duapuluh film yang sangat berkesan dan -agaknya- akan terus
bersigantung di ingatan saya sampai mati. setiap satu atau dua tahun sekali film-film itu saya
tonton ulang. saya bukan termasuk segolongan orang yang doyan mengulang kenangan manis
dan -kalau boleh- membawanya ke liang kubur. bukan, dan bukan itu pula yang saya lakukan
dengan menonton pretty woman sampai dengan lebih dari 12 kali, misalnya.

saya percaya dan menetapkan bahwa duapuluh film tersebut memang film bagus, dan karenanya
pastilah awet sampai messias datang lagi. dia mampu bertahan sepanjang masa karena setiap kali
menonton ulang, saya senantiasa menemukan hal baru, makna baru, kesan baru. entah apakah
kemakinberwarnaan-hidup-seiring-usia yang memungkinkan saya mendapatkan pengalaman baru
setiap kali menonton godfather, saya tak tahu. tapi, bisa jadi bahwa film tersebut memang memilki
pemaknaan berlapis yang satu-per-satu baru terkuak ketika kita menontonnya lagi, dan lagi.

pengalaman itulah yang mau saya bagikan kepada anda semua. sebagian anda mungkin menduga
bahwa saya sedang melakukan eksperimen di ranah hermeneutika untuk mengawetkan sebuah
film. saya tak akan membantah, meski tak setakat-penuh dengannya. kenapa? karena, kadang,
saya berlaku pasif. saya tak membuat tafsir, saya tak menanggalkan presuposisi yang telanjur
bercokol di kepala, pun tak membersihkan ilalang dari sekitar daun agar putiknya mudah direngkuh
serbuk yang dibawa dan disodorkan oleh kupu-kupu. kadang saya memang diam, dan
kebermaknaan itu hadir sendiri bersama pertemuan di alam benak antara semesta muna dengan
diane keaton di
the other sister untuk yang ke sekian kali, meski tak jarang saya menjumpai
mereka dengan intensitas penuh dan berlaku aktif.

entah apapun itu, satu hal yang pasti, saya selalu merasa segar setiap usai menyaksikan mereka.
kadang saya ingin seperti seorang teman,  lumongga ariana: jika sedang malas beribadah minggu
dia mengunci diri di kamar selama 2 jam untuk menyaksikan 1 atau 2 episode grey's anatomy, lalu
mengakhirinya dengan doa mohon pengampunan dosa, doa syafaat, dan doa bapa kami. dan,
brrrgghh, dia merasa telah mengalami ibadah minggu yang agung.  

jika website ini berumur panjang, anda akan mengerti apa yang saya maksudkan. tahun depan,
bisa jadi, anda akan menemukan tulisan saya tentang pretty woman, misalnya, untuk
keduakalinya,  namun dengan isi yang sama sekali berbeda.

nah, ketika menemani anak-anak saya menonton batman dua pekan lalu, saya mendadak tak lagi
mahfum pada sam harris maupun richard dawkins. bagaimana mungkin tuhan dan agama akan
lenyap semudah yang mereka bayangkan sedangkan batman yang jelas-jelas fiksi mampu bertahan
lebih dari 50 tahun? dan hari itu kami harus menunggu 3 jam untuk bisa mendapakan tempat
duduk yang tidak di bagian depan.

akhir kata, layarmuna hadir sekali dalam 2 pekan, pada hari rabu.

jakarta, agustus 2008
muna panggabean
ternyata                          asal bunyi                        kidung muna                        penulis tamu