merdeka - merdeka
sebentar lagi lagu kebangsaan :indonesia raya: akan dikumandangkan dengan megah. di segenap
penjuru negeri, di hadapan ratusan juta pasang mata, mengiringi secarik kain merah-putih yang
merambat naik untuk mencium langit. sebuah lagu yang diniati untuk menggugah semua hati guna
bersatu di bawah satu panji.
tapi, pernahkah kita mengamati bahwa lagu tersebut sebetulnya jauh lebih mencekam, jauh lebih
bergelora, jauh lebih menghanyutkan jika tidak dinyanyikan tapi hanya dimainkan oleh sejumlah alat
musik? sekaligus dengan itu, beranikah kita mengaku bahwa lagu tersebut -sebenarnya- memang
sulit untuk dinyanyikan? padahal, dalam sekian deret melodinya tak terjumpa satu pun nada
kromatik. padahal, dalam puluhan ketukannya, kita tak juga bersua dengan satu pun sinkopasi.
sebuah ciri utama dari lagu kebangsaan ataupun hymne adalah rentang nadanya yang bersifat
umum. artinya, semua orang -baik tua maupun muda, perempuan maupun lelaki- tak menemukan
kesulitan untuk mencapai nada terendah maupun menggapai nada tertingginya. dan, karena
:tua-muda: juga meliputi anak-anak, maka seyogyanya rentang nada suara anak-anak harus jadi
patokan.
rentang nada suara anak-anak secara umum berada pada wilayah c sampai dengan c'. atau, dengan
kata lain, wilayah jangkaunya hanya berada dalam cakupan 1 oktaf. rentang nada suara orang
dewasa secara umum berada pada wilayah c - e'. lalu, apa yang terjadi pada :indonesia raya:? jika
dimainkan pada nada dasar g maka nada terendahnya berada pada posisi 'a, sementara nada
tertingginya berada pada posisi e'. anak-anak menemukan kesukaran untuk mencapai nada 'a,
demikian pula orang dewasa secara umum. kesulitan yang lain juga dihadapi oleh para anak untuk
menggapai nada tinggi e', sementara orang dewasa dimungkinkan untuk menjangkaunya (wilayah
jangkau c - e' merupakah wilayah nada yang berlaku secara internasional untuk suara orang
dewasa, namun suara ummat di indonesia hanya mampu dengan mulus menjangkau nada d').
karenanya, tak jarang kita menjumpai sebagian orang berhenti bernyanyi saat tiba pada bagian
:tanah tumpah darahku:. lalu besaran suara mendadak kecil ketika tiba pada bagian :indonesia raya
merdeka, merdeka: karena nyaris tak berdaya menjangkau nada tinggi yang menyertainya. segera
dapat diduga, getar semangat yang diharapkan hadir pada bagian tersebut malah menghasilkan
kesan putus-asa.
dari segi rentang nada, lagu ini sama edannya dengan lagu kebangsaan amerika serikat star
spangled banner yang memiliki nada terendah 'a dan nada tertinggi e'. apa yang terjadi dengannya
sekarang? nyaris tak pernah dilagukan sebagai nyanyian bersama. di banyak kesempatan, seorang
solis ditugaskan untuk menyanyikannya.
selanjutnya, mari kita telaah juga syairnya.
kaidah yang paling utama dalam sebuah nyanyian adalah kepaduan antara syair dan melodi. seorang
rekan berkata bahwa aksentuasi melodi harus menghamba pada aksentuasi syair. ada banyak kaidah
yang mengatur soal aksentuasi, namun yang paling mendasar adalah bahwa ketukan pertama pada
setiap birama menghasilkan aksen terkuat.
lagu indonesia raya dimulai pada ketukan ke-4, sehingga suku-kata :ne: pada kata indonesia jatuh
pada ketukan ke-1 dan karenanya mendapat aksen. ini selaras dengan pengucapan :indonesia:,
tekanan memang jatuh pada suku-kata /ne/. namun, interval sext dari sol ke mi pada suku-kata
/ne/ ke /sia/ mengakibatkan orang-orang yang tidak cukup terlatih memberi tekanan pada
suku-kata /sia/ sehingga menghasilkan aksen ganda. itu membuat :indonesia: diucapkan dengan
cara yang asing: in-do-NE-SIA (suku-kata yang berkapital adalah yang mendapat aksen), mirip
dengan intonasi orang jepang.
kekeliruan berikutnya kita jumpai pada bagian :tanah TUMpah darahKU:. suku-kata /tum/ jatuh
pada ketukan ke-1 sehingga mendapat aksen, mengingkari intonasi sebenar :tumPAH:. pada
umumnya, pengucapan kata-kata dalam bahasa indonesia untuk lema bersuku-dua memang jatuh
pada suku-kata ke-2, seperti malam, kelam, bisa, sana, mari, dan lain-lain, walau juga terdapat
banyak pengecualian yang tidak mungkin saya bahas secara keseluruhan dalam tulisan ini.
tapi, dari semua itu, kekeliruan yang paling mencolok dan menyelusup masuk ke dalam ruang
percakapan sehari-hari kita temukan pada frasa :merdeka-merdeka:. suku-kata /ka/ pada :merdeka:
yang pertama jatuh pada ketukan ke-1 sehingga mendapat aksen. kekeliruan tersebut,
nampaknya, terpola sehingga kata :merdeka: yang ke-2 dinyanyikan seturut dengan aksentuasi
kata :merdeka: pertama. akibatnya, aksentuasi keseluruhan menjadi merdeKA, merdeKA.
padahal merdeka berasal dari bahasa sansekerta, mahardikka, yang memiliki aksen pada suku-kata
/dik/ sehingga diucapkan dengan intonasi :maharDIKka:. aksentuasi yang sama seharusnya berlaku
pada kata :merDEka:. nah, ketika mengucapkan pekik merdeka-merdeka sesuai dengan aksentuasi
di dalam lagu :indonesia raya: segera terasa bahwa kita membunyikannya seperti intonasi orang
jepang. celakanya, intonasi tersebut terbawa ke atas panggung-panggung pidato. tengoklah
bagaimana para politikus mengucapkannya dengan pekik penuh semangat: merdeKA, merdeKA.
ngaco.
tapi, pentingkah itu semua? berkeharusankah para penulis lagu menyelenggarakan kepaduan
antara syair dan melodi? tentu saja. lagu adalah syair yang dinyanyikan, bukan musik yang
disyairkan. karenanya, melodi memang harus menghamba-diri kepada syair. sila telisik lagu-lagu
dengan syair berbahasa inggris. anda dan saya akan menemukan kesulitan untuk mencari
ketidakpaduan antara syair dan melodi di dalamnya. coba, misalnya, ucapkan nothing's gonna
change my love for you dan bandingkan aksentuasinya dengan apa yang didaraskan dalam lagu
yang dipopulerkan george benson itu. persis, sama, sebangun.
kecuali dalam sebagian lagu-lagu ibadah ummat kristen protestan dan katolik, saya belum
menemukan satu pun lagu berbahasa indonesia yang menyelenggarakan kepaduan antara syair dan
melodi. gilanya, kita terharu dan menangis saat mendengarkan lagu-lagu yang bermaksud entah
apa itu.
jadi, bagaimana kita harus memperlakukan lagu kebangsaan :indonesia raya:? biarlah dia dinyanyikan
oleh solis atau dimainkan oleh serombongan pemusik. selanjutnya, lahirkan lagu kebangsaan kedua
sebagai pendamping, sebagaimana lagu :my country 'tis of thee: di amerika serikat. buat saya, lagu
ini merupakan salah-satu lagu kebangsaan terbaik di dunia. bagaimana tidak. wilayah nadanya tak
sampai satu oktaf sehingga sangat mudah untuk dinyanyikan oleh segala kalangan -bahkan- sampai
ke anak taman kanak-kanak sekalipun. kekurangannya cuma satu: melodinya persis mirip dengan
:god save the queen: membuat orang amerika tak cukup percaya diri untuk menyanyikannya di
acara dan kegiatan antar-bangsa.
