saya lumayan kecewa mendengar pidato inaugurasi obama. bukan bersebab dia tak sama
sekali menyinggung soal gaza, tapi, karena pidatonya terdengar bagai seorang yang penat
menanggung beban berat.

dia tak membentangkan amerika yang gemilang, amerika yang sigap menghalau bencana.
meski itu kemudian ada di beberapa bagian, namun terdengar lebih sebagai kewajiban
tinimbang gairah dari sebuah bangsa yang besar. keseluruhan isi pidatonya dikuasai oleh
jargon-jargon kegelapan: krisis, perang, korupsi, dan darah. dia menghardik dan
memerintahkan kita semua untuk berhenti berlaku seperti kanak-kanak yang tak
bertanggungjawab. dia juga berkata bahwa tantangan di depan sangat berat, meski dia
meyakinkan kita untuk dapat mengatasinya. tapi, berkata bahwa :hari sungguh gelap:
sesungguhnya sudah menghadirkan kegelapan tersebut di hati para pendengar, tak peduli
bahwa di bagian berikutnya kita diyakinkan untuk bisa mengebasnya.

obama lupa bahwa kata kunci dari seluruh bagian kampanyenya adalah
change dan hope.
hemat saya, itulah yang seharusnya lebih dulu dia ucapkan sebagai kata pembuka. bukankah
jauh lebih indah baginya jika memulai pidato dengan berkata: harapan telah datang, fajar di
timur telah merekah, cahaya telah dipancarkan dari langit untuk menerangi jalan kita dalam
menerobos kegelapan? obama tidak melakukannya. dia memilih untuk lebih dulu menguraikan
dengan cukup rinci berbagai kesulitan dalam negeri dan keporakporandaan dunia, sebelum
kemudian berkata bahwa kita akan menyelesaikannya. itu sebabnya, sambutan publik tidak
cukup histeris jika dibandingkan dengan bagaimana mereka memekik saat mendengar pidato
penerimaannya seusai ditetapkan sebagai pemenang pilpres. waktu itu dia berkata langsung,
change has come to america.

saya pun kecewa karena obama kehilangan
eloquence, sesuatu yang kerap kita temukan
dalam pidato-pidato kampanyenya. dulu, kita sempat terperangah ketika obama berkata
bahwa
this election is not about me, it's about you. dengan kalimat tersebut obama
menyerahkan tanggungjawab amerika kepada para pemilih, bukan kepada upaya pribadinya
untuk menjadi presiden. sebuah pendekatan yang sangat menarik, menggugah, dan
memelorotkan pandangan lama yang mengesankan bahwa pilpres adalah sekadar ajang untuk
memilih pemimpin, bukan keputusan untuk mengubah masa depan.
eloquence semacam itu
alpa untuk hadir kemarin. obama lebih bernafsu untuk menyampaikan banyak hal. terlalu
beragam butir pikiran yang ingin direngkuh.

satu-satunya hal yang menarik dari pidato obama adalah kesediaannya untuk bersuara lirih
pada bagian tertentu yang justru dianggap penting. dia memberi aksen dengan merendahkan
suaranya, berkebalikan dengan sejumlah orator yang berteriak pada bagian yang dianggap
utama.




























wajah obama memang terlihat sedikit tegang seusai menghadiri ibadah di st. john's episcopal
church pada selasa pagi. hal tersebut berbeda jauh dengan betapa rileksnya bush
menyambut obama di pintu samping gedung putih untuk menikmati jamuan teh dan kopi.
michelle pun terlihat kaku saat menyerahkan bingkisan kepada laura berupa sebuah pena dan
buku jurnal (semacam diary). bush menikmati selasa pagi itu dengan cara yang bersahabat
dan agung. senyum meronanya tak putus dia bagikan kepada semua orang. gerak badannya
terlihat aktif dan lentur menggambarkan :kerelaannya: yang lepas. ketegangan obama
kemudian terlihat telak saat dia tergelincir dalam mengucapkan sumpah yang dibacakan oleh
chief of justice, john roberts, untuk diikuti frasa demi frasa.

rasa hambar tersebut memang sudah kita temukan sedari awal, sejak mengikuti invocation
yang dibawakan oleh pastor rick warren. senada dengan obama, rick warren berlaku sebagai
seorang hamba yang sudah lebih dulu ngeri, jeri, dan nyeri melihat keadaan. doanya muram
dan sama-sekali tak menguatkan. rick warren cuma hadir sebagai antitesis dari rev. gene
robinson, seorang
openly gay pastor yang membawakan invokasi sebelum dimulainya konser
musik
we are one pada hari minggu untuk menandakan dimulainya rangkaian acara inaugurasi.

ya, banyak orang memang gemetar di hari paling besar dalam sejarah modern amerika serikat
itu. puisi elizabeth alexander, profesor dari yale university, yang selalu liris, mengalir hening,
tiba-tiba terdengar terbata-bata.
praise song for the day, demikian judul puisinya. tapi
elizabeth malah menyapa seisi negeri dengan sekarung kecemasan. dia tak berdaya. gelora
berlebih menyesaki dadanya, membuat suaranya tersendat, dan akhirnya memadamkan
semua keindahan amerika yang sebetulnya tersua dalam larik-larik puisinya. perhatikanlah,

each day we go about our business, walking past each other, catching each others’ eyes or
not, about to speak or speaking. all about us is noise. all about us is noise and bramble, thorn
and din, each one of our ancestors on our tongues.

someone is stitching up a hem, darning a hole in a uniform, patching a tire, repairing the
things in need of repair. someone is trying to make music somewhere with a pair of wooden
spoons on an oil drum with cello, boom box, harmonica, voice.

.../
namun, saya terhibur dan diteguhkan oleh
benediction yang dibawakan rev. joseph lowery.
meski suaranya yang renta terdengar memberatkan, namun keelokan kalimat yang meluncur
dari mulut doanya sungguh menenteramkan. dan, gairah, sesuatu yang nyaris terbunuh pada
siang itu, kita temukan, satu-satunya, pada pembacaan lowery. sungguh, doa lowery adalah
kehangatan yang pantas menemani sinar matahari yang menerobos dinginya udara di national
mall. tengoklah paragraf pembuka yang dipilihnya:

god of our weary years, god of our silent tears,
thou, who has brought us thus far along the way,
thou, who has by thy might led us into the light,
keep us forever in the path we pray,
lest our feet stray from the places, our god, where we met thee,
lest our hearts drunk with the wine of the world, we forget thee.

lowery langsung menohok jantung pendengarnya dengan sebuah peyakinan yang
dinaikkannya ke langit, kepada tuhan yang telah memimpin kita sejauh ini, kepada dia yang
telah menghantar kita berjalan memasuki terang. lowery tidak memetakan kegelapan, namun
keyakinan kokoh yang berdiri di atas sejumlah penyertaan tuhan di masa silam. dengan
memberi atribut
god of our weary years, god of our silent tears, lowery berkata bahwa
keadaan yang mencekam ini, tangis tak terucapkan ini, pernah terjadi dan mengalir di masa
silam, namun kita telah pernah melaluinya, dan sekarang akan melampauinya.

dan, ketika kemudian lowey berdoa buat obama, jelaslah secara sistematik dia menempatkan
obama sebagai jawaban atas doa kita selama ini, sebagai kepanjangan tangan tuhan untuk
memelihara bumi dan ciptaannya. perhatikanlah,

for we know that, Lord, you are able and you're willing to work through faithful leadership to
restore stability, mend our brokenness, heal our wounds, and deliver us from the exploitation
of the poor, of the least of these, and from favoritism toward the rich, the elite of these.

lowery juga berdoa dalam cara yang menyegarkan. ketika sampai pada bagian untuk
mendoakan 2 putri obama, dia mengucapkannya sebagai berikut:
bless president barack, first
lady michelle. look over our little angelic sasha and malia.
    :: michelle membuka mata pada bagian ini, berhenti sejenak dari
    ketertundukannya, dan memandang penuh senyum ke arah putri-putrinya. dia sadar
    bahwa lebih besar dari penobatan suaminya hari ini adalah kegemilangan tuhan yang
    hadir lewat sasha dan malia. dan itu diungkapkan dengan menggetarkan oleh lowery
    melalui sebutan our little angelic.

selanjutnya, doa lowery makin menghanyutkan saya:
and as we leave this mountain top, help us to hold on to the spirit of fellowship and the
oneness of our family. let us take that power back to our homes, our workplaces, our
churches, our temples, our mosques, or wherever we seek your will.

menakjubkan. sebagai pendeta, lowery dengan tegas mengakui keberadaan mesjid dan kuil
sebagai tempat lain selain gereja dimana kehendak tuhan bisa ditemukan. itu diperkuatnya
dengan memilih untuk tidak perlu menyebut-nyebut nama yesus satu kalipun di sepanjang
doa. saya larut, tersenyum, tapi juga menitikkan airmata sewaktu dia mengakhirinya dengan
ucapan:

lord, in the memory of all the saints who from their labors rest,
and in the joy of a new beginning,
we ask you to help us work for that day
when black will not be asked to get in back...
when brown can stick around ...
when yellow will be mellow ...
when the red man can get ahead, man;
and when white will embrace what is right.
that all those who do justice and love mercy.
say amen, amen, amen


21 januari 2009
asal bunyi                    kidung muna                   layar muna                   penulis tamu