sekarang, kalau dia mau pergi,
biarlah pergi. ke laut, ke langit, ke
parit, silakan minggat. menangis?
fuih, masih ada momen yang jauh
lebih berarti dan lebih
menggetarkan yang patut
mendapat curahan air-mata kita.

nasuan ma timbaho
dua gantang sadari (otene boto)
naubah ma parlahou
ulang songon sapari (otene boto)

tanamlah tembakau
dua gantang satu hari (ya kan ito)
kita ubahlah perilaku
jangan seperti yang kemarin (ya
kan ito)

syair pada bait pertama dikenal
sebagai umpasa, petatah-petitih,
adagium yang seringkali digunakan
oleh para orangtua batak untuk
menasihati anak-anaknya. syair
tersebut juga kita jumpai dalam,
sedikitnya, 2 lagu batak lainnya,
yakni :kacang koro: dan :serma
dengan-dengan:.

umpasa dalam adat batak
mendapat tempat khusus. dia
merupakan mutiara yang dibentuk
oleh pengalaman rohani para
leluhur. dia adalah bukti kearifan
nenek-moyang batak untuk
membuat hipotesis, aksioma, juga
saya menutup pintu kamar talita. kami baru saja bercakap-cakap panjang, hampir dua jam.
tentang sekolah, tentang lagu, tentang sastra, tentang teman-temannya, dan juga tentang
asmara. talita meminta saya mendengarkan kegalauannya, keheranannya akan beberapa
teman yang begitu mudah memutuskan untuk berpacaran padahal mereka masih duduk di
bangku sekolah menengah pertama.

berpacaran kan harusnya dilakukan untuk menuju pernikahan, protesnya sengit.

protes itu masih terngiang di benak saat saya masuk kamar untuk lalu membuka laptop,
menulis dalam pengembaraan bathin di tengah malam. ketika merenungkannya, ada
kecemasan merambat perlahan, mengalir di dada, mencengkeram saluran pernafasan. saya
sadar bahwa protes talita sudah tak lagi sepenuhnya tepat.

.../

pos ni uhur mai daboto
manadingkon au sononda
rugih iluhku mambur
mardingan janji na daung salpu,
otene boto

saya tak tahu, dalam kesempatan dan suasana bagaimanakah empat baris di atas yang diambil
dari refrain lagu :pos ni uhur: masih tepat untuk dinyanyikan hari ini. angka peristiwa putus
cinta, patah hati, dan ingkar janji yang bertaburan setiap hari di jakarta barangkali
mengungguli jumlah banyaknya sepeda motor yang menyesaki jalan raya dan membuat bbm
yang sudah mahal menjadi lebih mahal lagi karena pemborosan yang diakibatkan oleh
kemacetan.

sungguh tega kau kekasih,
meninggalkan aku seperti ini,
air mataku terbuang percuma,
mengingat janji yg telah kita buat.

anak muda mana yang mau menyanyikan syair jadul seperti itu? bahkan seorang pendeta pun
akan bersaran kepada sepasang manusia yang sedang memadu-kasih untuk segera
memutuskan hubungan jika sudah tak merasa cocok satu-sama-lain. dan, ketidakcocokan bisa
jadi berupa kebosanan.

kebosanan adalah bibit unggul untuk melahirkan anasir teror yang akhirnya membuat semua
berantakan. datang terlambat, frekwensi kunjungan yang menurun, tak lagi bertelpon-siang
untuk menanyakan apakah sang kekasih sudah makan atau belum, mulai jengkel dengan
warna biru, tak lagi cukup punya tenaga untuk memberi pujian kecil, tak lagi sabar untuk
mendengar keluhan-keluhan ringan adalah serentet hal sepele yang kemudian menyulut
pertengkaran.

sederhananya, jika kebosanan sudah datang menyapa, sebelum muncul kebiasaan-kebiasaan
buruk yang akhirnya meletupkan perang, sebelum sapaan ramah berubah menjadi makian,
bukankah lebih arif untuk menyodorkan ucapan tarik-diri?

jadi, apa yang perlu ditangisi jika sang kekasih pergi dan tak kembali? kenapa pula mesti
menuduhnya sebagai seseorang yang berhati kejam karena tega ingkar janji? kebosanan
bukanlah hal yang bisa direkayasa. dia hadir begitu saja, tak peduli apakah kita masih punya
semilyar tenaga untuk mencinta.

lagipula, bukankah kita sudah melakukan upaya sungguh-sungguh untuk selalu tampil
menarik? bukan untuk dia, tapi sebagai aktualisasi diri. cobalah hitung, sudah berapa banyak
uang yang kita keluarkan untuk berlangganan majalah cosmopolitan agar selalu updated
dengan berbagai kiat guna membuatnya tetap sayang pada kita? sudah berapa juta uang
yang kita hamburkan untuk membeli gaun baru setiap bulan agar matanya selalu segar melihat
penampilan kita? dan, jangan lupa juga untuk menghitung biaya iuran keanggotaan bulanan di
celebrity fitness. bukan sekadar agar bugar, tapi
for the sake of sensuality.





































teorema dalam bentuknya yang sangat sederhana. umpasa laksana ayat suci yang menjadi
dasar dari sebuah usulan, pendapat, rencana, maupun tindakan. dalam upacara adat, seorang
pembicara wajib mengakhiri ucapannya dengan satu atau dua umpasa guna mendukung apa
yang sudah dikatakannya.

umpasa terdiri dari 2 bagian: sampiran dan isi. hampir sama dengan pantun, sampiran dalam
umpasa memang tak harus memiliki kaitan dengan isi. tapi, sampiran yang baik berkewajiban
menghadirkan kesan bahwa apa yang tercakup dalam isi pantun, atau umpasa, atau adagium,
adalah sesuai dengan dalil keseharian.

seperti misalnya pantun berikut ini:

kalau ada sumur di ladang
bolehlah saya menumpang mandi,
kalau ada umurku panjang
bolehlah kita bertemu lagi.

jika ada sumur di ladang tentulah lebih baik saya mandi di sana daripada harus berjalan pulang
dengan tubuh kotor seusai menabur benih padi di sawah. sehingga, jika ada umur panjang
tentu saja kita boleh bertemu lagi.

maksudnya, sebagaimana kuatnya :kebenaran: yang terungkap dalam bagian sampiran, sekuat
itu pula :kebenaran: yang ingin disampaikan dalam bagian isi. pola a-b-a-b mendukung hal
tersebut: bahwa baris ke-3 hadir dalam keselarasan dengan baris ke-1; baris ke-4 rebah dalam
pelukan baris ke-2; untuk memperlihatkan bahwa logika yang terdapat dalam baris ke-3
dengan baris ke-4 samakuatnya dengan logika yang sudah terbukti benar (karena biasanya
diangkat dari peristiwa keseharian atau hukum alam-semesta) yang terdapat dalam baris ke-1
dengan baris ke-2. itu sebabnya :umpasa: atau adagium dalam tradisi batak memiliki kekuatan
yang sangat sugestif untuk meyakinkan pendengar atau lawan bicara.

syair :kita tanamlah tembakau, dua gantang sehari: bertutur tentang ketekunan dan
kepanggahan (kekonsistenan), walau sedikit tapi dilakukan setiap hari sehingga menghasilkan
keteraturan dan kepastian. harapan yang sama diucapkan si penutur kepada sang kekasih
untuk mengubah prilakunya agar jangan seperti yang sudah-sudah: tidak panggah, tidak
istikomah.

dengan demikian pilihan si penutur untuk mencomot umpasa tersebut dan memasukkan ke
dalam lagunya dapatlah kita duga sebagai dasar bagi sejenis :paksaan: kepada sang kekasih
agar bersedia mengubah keputusannya. jika remaja sekarang mendengarnya, mereka pasti
spontan menimpali penggunaan :kita: di baris ke-3 tersebut dengan ungkapan :
kita? elo kali,
gue sih enggak:
. memang menjengkelkan, karena si penutur seolah menganggap keputusan
sang kekasih untuk meninggalkannya merupakan buah dari prilaku buruk.

lalu, bait ke-2 yang -lagi-lagi- diungkapkan dalam bentuk pantun, umpasa, adagium membuat
:pos ni uhur: bagaikan kertas usang dari jaman lampau yang mengotori percakapan peradaban
hari ini. tengoklah:

dalan hu harang gaol
bahat bulung ni pisang (o tene boto)
pala pala margaul
ulang be namin sirang (o tene boto)

jalan ke harang gaol
banyak daun pisang (ya kan ito)
sudah kadung bergaul
jangan lagi berpisah (ya kan ito)

sejenak saya merasa malu. jika penuturnya seorang perempuan, saya pasti akan segera
mendampratnya karena sikap yang sangat mengiba itu. sebab, bukankah berpacaran dalam
budaya sekarang adalah sebuah proses penjajagan? jika tak cocok, kenapa pula mesti
bertahan? jika sekarang saja dia sudah merasa bosan dengan saya, apalagi nanti setelah
berumahtangga, saat persoalan yang sesungguhnya datang menghadang. ayo, bergaul,
bergaullah sebanyak-banyaknya. jangan bergegas menentukan pilihan, jangan berlekas
mengambil keputusan, ada tersedia banyak kemungkinan. apa yang kamu genggam sekarang
belum tentu sudah yang paling kemilau.

.../

lagu :pos ni uhur: telah berulang tujuh kali, dan saya masih belum juga mengerti. saya
mengamati suami saya yang tidur lelap. saya memandangi cinta saya yang berusia hampir
enambelas tahun genap. sebuah perjalanan yang tak mudah. gelombang surut-pasang yang
membuncah. tapi, saya lalu sadar bahwa apa yang membuat kami kuat (dan semoga tetap
kuat sampai akhir) bukanlah sebuah kesejatian yang lahir dari proses seleksi yang ketat. tidak
sama sekali.

kami berkenalan tanggal 9 januari, dan saling mengucap cinta pada tanggal 14 pebruari, cuma
berselang 36 hari. lalu, pada tanggal 17 oktober di tahun yang sama kami pun menikah. kami
sama-sama sadar bahwa kami telah tidak membuat keputusan terhebat. karena, dulu, di
sekitar lelaki yang sedang tidur ini, bertaburan sejumlah perempuan kahyangan yang sebagian
darinya adalah para pesohor. beredar juga di sekitar saya sejumlah lelaki dengan prestasi
akademik selangit.

tapi, waktu kemudian mewartakan bahwa kami telah membuat keputusan terbaik, keputusan
yang berselaput rahmat sorgawi. kebenaran dari keputusan tersebut tidak dibuktikan oleh
apa yang disebut sebagai jodoh, atau takdir, melainkan oleh kekuatan yang terpancar dari
kesungguhan untuk berteguh pada janji nikah yang telah diucapkan di hadapan tuhan dan
jemaatnya. dan, :kesungguhan: senantiasa membuat saya bergairah mencumbunya di tempat
tidur. :kesungguhan: juga selalu membuat dia melihat saya sebagai perempuan yang menarik
dan sexy.

kesungguhan itu pula yang barangkali absen di sekitar pernikahan para pesohor. mereka
adalah mahluk yang memiliki segala yang dibutuhkan untuk bisa menyeleksi pasangan hidup
serinci mungkin guna memenuhi semua ukuran yang ingin diterakan, agar kelak setiap pagi
mereka selalu merasa bangun di sebelah pangeran, atau di sebelah sang putri. mereka
sanggup gonta-ganti pacar sebanyak mungkin tanpa perlu kuatir akan beraneka stigma yang
bisa dicacah di jidat. sebab mereka pesohor. sebab mereka memiliki ketampanan, kecantikan,
dan uang yang bisa membuat mereka selalu tampil lebih menarik daripada kemarin. dan,
masyarakat tak pernah bosan, bahkan bergairah mengikuti kisah jatuh-bangun cinta mereka.
ada ratusan acara infotainment diselenggarakan untuk meliputnya. ada puluhan tabloid
didirikan untuk mengabarkannya. tapi, justru di lingkungan mereka perceraian dengan heroik
dipamerkan ke ruang publik.

di sinilah :pos ni uhur: menemukan tempat sejatinya. bahwa, kata para orangtua batak, jika
kalian sudah memutuskan untuk berpacaran hendaknyalah dijalani dengan serius. pada
belasan tahun silam bahkan masih berlaku sebuah tabu untuk memperkenalkan sang pacar
kepada orangtua bila keduanya masih belum merasa pasti.

sehingga, sebetulnya,
pala-pala margaul unang be lamin sirang, adalah sebuah pesan arif yang
melampaui jaman. sebab, jika kesungguhan sepasang kekasih tak terlihat saat berpacaran,
jangan mimpi bahwa itu akan muncul saat berumahtangga.

akhirnya, sebuah keputusan bisa saja salah. namun, sekali lagi, justru dalam kesungguhan
untuk meneguhkannya, di sana terletak kebenaran dari keputusan yang telah dibuat.

.../

saat saya menutup laptop, keheningan betul-betul menyekap. sebuah percakapan panjang
yang mengalir deras sewaktu menulis tadi mendadak lenyap. saya memandang ke tempat
tidur pada sebuah tubuh yang terbujur lengang dan damai. ingin saya menggodanya untuk
mengarungi malam bersama, membasahi dada dalam gerak berirama, dan mengumbar desah
yang berujung pada teriakan paripurna. tapi, wajah itu begitu tenang, menekuk di bawah
cahaya temaram.

sebelum tidur, saya berdoa buat talita. semoga dia menemukan kebenaran dari protesnya.
ternyata                           asal bunyi                          layar muna                         penulis tamu