seorang lelaki akhirnya pulang. tak ada bapa yang menyambut dengan tangan terbentang, tak ada pesta
besar yang digelar di sorga, tak juga serombongan malaikat megah bermadah; cuma seorang perempuan
berdiri tenang, menunggu dengan lesung pipi mengembang.
sejak awal perempuan itu memang telah memandunya untuk menemukan jalan pulang.
edward meminta darryl mengubah arah.
mereka melaju menuju apartemen
vivian. setelah membeli sebuket bunga,
edward membuka sunroof limousine lalu
menyembulkan tubuhnya keluar. aria
opera terdengar membelah jalan dan
memanggil vivian melongokkan kepala
melalui jendela. edward ada di bawah
dan vivian bertengger di atas. sekarang,
edward harus memanjat untuk
menjangkau vivian. ini pendakian sejati
yang tak sama dengan pergerakan
saham di lantai bursa nyse. selama ini
dia memang tak pernah berada di
ketinggian sesungguhnya. sekaranglah
saatnya

buat vivian hidup dimulai ketika matahari surut dan rembulan berangkat naik memberi terang. pagi adalah
batas dan siang adalah kesenyapan. tak sejenak dia memberi ruang kepada rasa bersalah untuk
menyembulkan diri. tak seperti manusia lain yang gemar berleha, vivian sangat menghargai waktu: 100
dollar untuk 1 jam.
kita tak tahu apakah vivian adalah seorang perempuan yang rajin berdoa agar langit menumpahkan rejeki
padanya setiap hari. tapi, ketika pada satu malam dia berdiri di kawasan hollywood boulevard untuk diantar
nasib bersua dengan lelaki dari kahyangan yang kesulitan menemukan arah pulang, dia sadar bahwa ada
sebagian dari dirinya yang sudah lama hilang.
vivian tak bermegap meski tahu bahwa kamar penthouse yang segera akan dia tiduri adalah simbol dari
harta luar-biasa yang dimiliki penghuninya. ini cuma cinta seharga seratus dollar, pikirnya, dan minus ciuman,
juga hati. seperti biasa, dia cuma akan bersodor cumbu-rayu dan lenguhan palsu untuk sejenak kemudian
kembali berdiri di pinggir jalan menunggu lelaki lain.
.../
buat edward lewis hidup dimulai ketika matahari merayap naik membangunkan bumi. malam adalah sekian
jam basa-basi dalam serangkan cocktail party untuk menghangatkan mimpi. dia berada pada ketinggian,
sedemikian tingginya sehingga memandang ke bawah adalah nyeri dan ngeri.
kita juga tak tahu apakah edward adalah seorang lelaki yang rajin berdoa setiap hari sehingga langit begitu
ramah mengalirkan limpahan rejeki. edward bergerak lincah dari satu pencapaian ke pencapaian lain
termasuk menumpahkan dendam kesumat pada sang ayah yang meninggalkannya di waktu kecil.
perusahaan sang ayah adalah perusahaan ke-3 yang dia caplok, dia dedel, dan dijualnya keping demi
keping. sang ayah mati, merana dalam sepi.
dan ketika pada suatu malam dia tersesat di kawasan hollywood boulevard, seorang perempuan bernama
vivian mengantarnya untuk menemukan arah pulang.
.../
di kamar penthouse beverly wilshire hotel kebersamaan mereka di mulai. tak sampai sejam, kontrak
berubah cepat: dari 100 dollar menjadi 300 dollar sebagai harga semalam penuh. berceritalah edward
tentang pekerjaannya sehari-hari: membeli sebuah perusahaan -jika perlu, dengan cara paksa-,
memretelinya, lalu menjualnya dalam satuan kecil untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya. kata
vivian, itu sama saja dengan mencuri sebuah mobil, membongkarnya, dan menjual onderdilnya satu-demi-
satu agar jejaknya tak kelihatan lagi.
tapi saya tidak mencuri, protes edward.
benarkah, tanya vivian.
itu bukan percakapan semu di jamuan pesta. itu suara hati yang rindu akan percik kesegaran embun pagi.
edward menemukan ruang untuk berbicara sebagai manusia. vivian menemukan istana untuk mencoba
segala yang baru, bukan sekadar segala yang mewah.
edward memperpanjang kontrak: 3,000 dollar untuk harga kebersamaan selama seminggu. dia lalu memberi
uang kepada vivian untuk berbelanja gaun baru guna menghadiri jamuan bisnis sebentar malam. vivian pergi
menyusuri jejeran butik sepanjang rodeo drive, kawasan berbelanja penuh gengsi di beverly hills, los
angeles. tapi, karena itu vivian ditolak. dia bukan perempuan dari istana yang layak disapa dalam kesima. dia
pulang ke hotel dengan hati gundah. tapi, di sana ada manajer hotel, bernard thompson, seorang lelaki
bajik yang memberinya sentuhan seorang ayah. bernard menelpon sebuah butik dan berpesan agar mereka
melayani vivian dengan baik. bernard juga mengajarinya tentang sendok agar vivian tampil gemulai di
jamuan bisnis.
malam itu, edward menampilkan kepiawaiannya membunuh lawan bisnis dengan ekspresi yang paling
dingin. tapi, escargot yang melesat tak sengaja dari piring vivian adalah sensasi yang mengusik
ketenangannya. bekicot lezat itu laksana kerikil yang dilempar alam semesta untuk menghadirkan kembali
riak kecil di hatinya yang sudah lama mati. segala menjadi tak sama lagi.
keesokan pagi edward menemani vivian kembali berbelanja di rodeo drive. mereka bagaikan mempelai
perempuan yang berjalan keluar dengan wajah bak bunga mekar didampingi sang mempelai pria; seisi kota
memandang mereka dengan takjub. tak ada lagi penolakan. tak ada lagi cibiran. vivian pulang dengan
langkah seringan angin -bukan karena menenteng setumpuk gaun mewah, tapi karena merasa telah
ditemukan.
vivian dibawa masuk ke dunia edward: asing dan beku. di sana cahaya surya cuma merusak kulit, tidak
menghangatkan hati. dalam sebuah acara pertandingan polo, phil, mitra kerja edward, tersentak kaget
ketika tahu bahwa vivian adalah seorang pelacur. dengan ringan dia berbisik pada vivian bahwa dia akan
memakai jasanya selepas kontraknya usai dengan edward. vivian merasa bumi yang dipijaknya bergetar dan
langit mendadak runtuh. sesampai di hotel dia berkemas untuk pulang ke rumah. apa maksudmu
membalutku dengan gaun mewah jika akhirnya kamu ungkap semuanya kepada temanmu? edward
memohon maaf, vivian membeku. edward bersodor 3,000 dollar sebagai pembayaran kontrak. vivian
mendiamkan lembaran uang tersebut tergeletak di ranjang. ini bukan tentang uang. dia melangkah pasti ke
luar kamar. edward mengejar dan memintanya tinggal. vivian luruh, mengurungkan niat.
diam-diam, vivian dan edward --masing-masing-- sadar bahwa hari-hari berikutnya dalam kebersamaan
mereka bukan lagi tentang uang dan kebutuhan untuk didampingi. ini adalah tentang perjalanan pulang.
dan ketika edward mengajak vivian ke san fransisco untuk menonton opera setelah terlebih dahulu
menghadiahkan gaun mewah berwarna merah dan meminjamkan seperangkat berlian, semuanya menjadi
jelas. opera la traviata yang mereka tonton adalah suratan nasib mereka berdua. para penonton pretty
woman yang bukan penikmat opera akan luput menemukan bahwa sebetulnya pada adegan inilah titik
balik, atau barangkali titik anjak, hubungan mereka berdua dimulai. la traviata bercerita tentang violetta,
seorang courtesan, perempuan penghibur yang biasanya disokong oleh seorang bangsawan, dalam
cintanya kepada alfredo, sang pemuda budiman yang penuhi gairah hidup. sebuah perjalanan cinta yang
rumit karena langit tak bersatu dengan bumi. dan, ketika violetta meratap dalam aria |addio del passato –
selamat tinggal kisah dukaku,| yang kemudian disusul oleh |o gran dio! morir si giovane – o, tuhan! begitu
muda untuk mati,| sebuah duet yang dinyanyikan violetta bersama alfredo, mata vivian sembab. dia tak
tahu apa-apa tentang bahasa itali. tapi kenyerian itu begitu kuat menembus hati. edward tercenung
melihat vivian menangis. dia tahu, cuma hati yang bening yang mampu melampaui bahasa.
kontrak harus berakhir, dan mereka tiba di ujung sepi. edward menolak untuk berhenti. dia menawarkan
kesempatan untuk bertemu lagi di waktu mendatang dengan balutan fasilitas sebuah condominium,
tunjangan bulanan, dan kartu kredit untuk berbelanja. tapi, vivian menolak. itu tak cukup baginya. dia
meminta semua atau tidak sama sekali. vivian tahu bahwa dia tak mungkin kembali berdiri di pinggir jalan.
bukan karena dia merasa sudah di atas, tapi karena apa yang dia lalui bersama edward selama sepekan telah
membuatnya tahu bahwa tak ada tubuh lain yang bisa dia dekap. dan dia tak mampu lagi melakukannya
tanpa hati.
edward harus pulang ke new york tempat semua gemuruh kekuasaan dibentangkan dengan keji. di
concierge dia bertemu bernard sembari menitipkan berlian pinjaman senilai 250,000 dollar untuk
dikembalikan kepada sang pemilik butik. saat menerimanya bernard berucap lembut: tak mudah melepaskan
sebuah keindahan pergi begitu saja. dan ketahuilah, darryl, sopir limousine yang akan mengantar anda ke
bandara adalah sopir yang tadi mengantar nona vivian pulang ke rumahnya:.
ya, pretty woman adalah film tentang perjalanan pulang dua orang manusia. di apartemen, vivian
mengepak semua barang karena bermaksud pulang kampung. di limousine, edward meniti jalan menuju
bandara untuk juga pulang ke rumahnya. tapi, alam semesta tidak menuntun mereka pulang ke kampung
atau new york.