secara tanda kutip


saya gelagapan karena dikepung penggunaan :secara: yang meruyak lewat ucapan para penyiar di
berbagai stasiun radio swasta. tadinya saya berpikir bahwa itu cuma sebuah kesalahan yang tidak
disengaja dalam canda di udara. namun, karena mendengarnya berulang-ulang, tak urung saya pun
gemas. lalu saya membaca berbagai komentar para pemerhati bahasa yang mengecam :secara:
yang tidak pada tempatnya itu. mereka uring-uringan.

tapi, sampai sekarang kita tak menemukan satu telaah pun yang berupaya mencari asal-usulnya.
padahal, jika berketerusan dibiarkan tidak disahuti dia akan melahirkan sejumlah keserampangan
baru. alasan pertama, penggunaan lema tersebut memang tidak pada tempatnya dan merusak
struktur bahasa. alasan kedua, karena dilakukan berulang-ulang tanpa memedulikan berbagai
kecaman yang muncul, kelihatannya para penutur :secara: tetap yakin pada kebenaran
penggunaannya. mereka, agaknya, memiliki sebuah sandaran lain yang luput dari perhatian kita.
dan, itu wajib untuk dicermati.

karena penuturnya bersiteguh, sangat besar kemungkinan bahwa kesalahan tersebut muncul
sebagai penyulihan yang tidak tepat dari bahasa asing. pada mulanya saya mencoba mencari
penggunaannya di dalam bahasa melayu. setelah berhari-hari menelisiknya, saya tidak
menemukannya. lalu, mulailah saya mencari penggunaannya di dalam bahasa inggris sebagai bahasa
asing yang paling akrab dengan penutur bahasa indonesia.

saat menyaksikan beberapa film televisi, saya tertarik pada penggunaan
way too fast, way too
soon, way too late, way too expensive
yang marak diucapkan oleh para tokohnya. aha, di sinilah
pangkal musababnya. para remaja dan penyiar radio rupanya menerjemahkan frasa tersebut sebagai
:secara sangat cepat, secara terlalu dini, secara sangat lambat , secara mahal banget, dan
:secara-secara: yang lain. terjemahan yang bukan hanya tidak tepat, tapi salah-kaprah.
way dalam
sejumlah frasa di atas digunakan untuk menaikkan gradasi :terlalu:,
too. maksudnya, si penutur
ingin berkata bahwa orang tersebut, misalnya, mengendarai mobil lebih dari sekadar :terlalu cepat,
tapi
way too fast. kita -mungkin- bisa memadankannya dengan :jauh terlalu cepat:. keserampangan
itu semakin terasa ketika ditemukan pada
way better than. para remaja menyulihnya sebagai
:secara lebih baik daripada:. padahal, frasa tersebut sangat akrab dan mudah dijumpai di dalam
bahasa indonesia: jauh lebih baik daripada...

berikutnya, saya juga bercuriga bahwa penggunaan :secara: yang terdengar serampangan bisa jadi
berasal dari sufiks
ly yang kita jumpai pada  bentukan practically, emotionally, financially,
unbelievably, clearly, supposedly
, dan banyak lagi. sufiks ly berfungsi untuk mengubah kata sifat
(adjektiva) menjadi kata keterangan (adverbia). :jernih: adalah kata sifat pada kalimat :langit
terlihat jernih:,
the sky is clear. tapi, clear berfungsi sebagai kata keterangan (adverb) ketika
digunakan untuk menerangkan :pandangan: atau :amatan: yang dilakukan sehingga memerlukan
tambahan sufix
ly untuk kemudian berbunyi i see clearly. clearly menjadi kata keterangan yang
berfungsi untuk menerangkan kata kerja
see.

bahasa indonesia tidak memiliki sufiks yang berfungsi untuk mengubah adjektiva menjadi adverbia.
dalam kasus
clear menjadi clearly kita menggunakan :secara: untuk mengubah :jernih: dari kata sifat
menjadi kata keterangan sehingga selengkapnya berbunyi sebagai: saya melihat secara jernih.
dalam kalimat tersebut, :jernih: tidak lagi berfungsi sebagai kata sifat tapi sudah menjadi kata
keterangan yang menerangkan kata kerja :melihat:.

terjemahan
practically menjadi secara praktis, emotionally menjadi secara emosional, financially
menjadi secara finansial agaknya bisa berterima sesuai dengan kaidah penempatan kata :secara:
yang diikuti oleh adverbia -- meski masih harus dipertanyakan apakah emosional dan finansial sudah
diserap dengan baik ke dalam bahasa indonesia, dan jikapun sudah, penjelasan apa yang kita
maktubkan untuk dua kata tersebut? tapi, bagaimana dengan
unbelievably? secara tidak dapat
dipercaya? salah. seharusnya, secara "tidak dapat dipercaya". tanda kutip dalam frasa tersebut
berfungsi untuk membuat tidak-dapat-dipercaya menjadi sebuah kesatuan yang tak lain dan tak
bukan adalah kata keterangan.

lalu, bagaimana kita menerjemahkan kalimat berikut ini:
sisterly, age doesn't matter.

para remaja dan penyiar radio pasti akan dengan tangkas menerjemahkannya sebagai :secara kita
bersaudara, umur tak jadi masalah:.

saya, tentu, lebih nyaman menerimanya dengan :secara persaudaraan, umur tak jadi masalah:. tapi,
para penyiar radio -sebetulnya- berusaha menghadirkan keakraban dalam percakapan mereka
dengan memasukkan kata ganti orang pertama jamak :kita: sehingga membuat para pendengar
merasa terlibat. namun, supaya taat asas, saya berusul --lagi-lagi-- agar mereka menambahkan
tanda kutip sehingga  jika diucapkan selengkapnya menjadi: secara, dalam tanda kutip, kita
bersaudara, umur tak jadi masalah. frasa "kita bersaudara" menjadi satu kesatuan tatkala diapit oleh
tanda kutip untuk berfungsi sebagai kata keterangan.

tanda kutip memang memiliki kegunaan yang luar biasa. selain berfungsi untuk mengapit sebuah
kutipan dan mengapit sebuah judul, dia juga berfungsi untuk mengapit sebuah istilah yang memiliki
makna tertentu. para penutur bahasa yang genit biasanya mengucapkannya dengan
so called,
atau
quote - unquote, sembari menganggukkan jari telunjuk dan jari tengah secara serempak. nah,
sedemikian berkuasanya tanda kutip sehingga makna asal dari sebuah istilah dengan mudah
dibengkokkan olehnya. tanda kutip bisa mengubah Tuhan menjadi tuhan, SBY menjadi sby,
menggairahkan menjadi "menggairahkan", merangsang menjadi "merangsang". beberapa penutur
memerlukan tanda kutip untuk mengapit kata "menggairahkan" agar makna yang dihasilkannya
tidak berkesan sensual. kecupetan memang telah mengungkung lema :gairah: untuk hanya berada
dalam wilayah makna tertentu. tanda kutip kemudian datang guna membebaskannya.

agaknya, dalam keruwetan yang diakibatkan oleh penggunaan istilah :secara: secara serampangan
akhir-akhir ini, tanda kutip bisa menjadi penyelesai yang sangkil dan mangkus. tanda kutip bisa
membereskan apa saja, termasuk mengubah fakta menjadi fiksi, ataupun fiksi menjadi fakta.

saya menggigil karena merasa tak berdaya di hadapan kemahakuasaan tanda kutip.