ter-
dalam sebuah diskusi -laporannya dapat dibaca dii blog guyubbahasa- terdapat silang-pendapat
mengenai padanan yang cocok untuk trainee. salomo simanungkalit mengusulkan :terlatih: yang
lalu ditentang beberapa wartawan. semuanya menolak dengan alasan bahwa :terlatih: akan
menghasilkan makna ganda: orang yang sedang berlatih, dan orang yang sudah dilatih.
martin mosmarth mengusulkan traine dengan merujuk padanan nomine untuk nominee. buat saya,
ini usulan yang sama-sekali tidak kreatip dan berkesan :malas:.
immanuel ray dari kantor berita antara datang dengan usulan :latihan: yang merujuk pola
didik==>didikan; bina==>binaan. ini pun berakibat munculnya makna ganda: latihan sebagai
bahan, program, atau silabus yang digunakan selama berlatih; latihan yang menunjuk pada orang
yang sedang berlatih. hal ini diakui oleh rian dewanto dari the bali times sehingga ia bersodor usulan
:didikan: sebagai padanan untuk trainee.
andre moller berusul akronim peserlah, peserta latihan. ini malah terlalu kreatip.
nah, mari kita kaji semua usulan tersebut:
pertama-tama, saya tertarik untuk menguji pola pembentukan kata yang disodorkan immanuel ray:
didik --> mendidik --> pendidik --> didikan (orang yang dididik)
bina --> membina --> pembina --> binaan (orang yang dibina)
latih --> melatih --> pelatih --> latihan (orang yang dilatih?)
didik dan bina adalah kata kerja (verba). bila pola yang sama kita kenakan ke beberapa kata-kerja
lain maka akan menghasilkan bentukan sebagai berikut:
tendang -- menendang -- penendang -- tendangan
pukul -- pukulan -- pemukul -- pukulan
tari -- menari -- penari -- tarian
nyanyi -- menyanyi -- penyanyi -- nyanyian
segera terlihat bahwa bentukan yang dihasilkannya memiliki pengertian yang berbeda dari
bentukan yang disajikan immanuel. apa yang dimaksud dalam frasa :tendangan christiano ronaldo:,
misalnya, adalah sebuah proses yang dimulai dari saat ronaldo menyepak bola, berikut pergerakan
bola yang diakibatkannya, sampai dengan bola tersebut berhenti atau dihentikan. bola adalah apa
yang ditendang oleh ronaldo sehingga bola bukanlah tendangan.
nyanyian adalah suara yang dikumandangkan seseorang saat bernyanyi, menyeluruh mencakup
intonasi, artikulasi, tempo, dinamika, ekspresi wajah dan sebagainya. dengan demikian nyanyian
tidak sama dengan lagu. sebab, lagu adalah apa yang terdapat dalam nyanyian.
karenanya, pola pengartian yang sama seharusnya juga berlaku untuk didik, bina, dan latih:
didikan adalah segala yang tercakup dalam proses pendidikan yang diberikan oleh seorang guru.
binaan adalah segala yang tercakup dalam proses pembinaan yang diberikan oleh seorang pembina.
latihan adalah segala yang tercakup dalam proses pelatihan yang diberikan oleh seorang pelatih.
bentuk tersebut akan semakin mendapat penegasan ketika kita kenakan kepada verba ajar:
ajaran adalah segala sesuatu yang tercakup dalam proses pengajaran yang diberikan oleh seorang
pengajar.
sekarang, mari kita kaji usulan salomo simanungkalit: terlatih sebagai padanan untuk trainee.
tentangan yang disodorkan atasnya yang menyebut terlatih sebagai orang yang sudah dilatih
agaknya bermusabab pada frasa :kaum terdidik:, dan :pasukan terlatih:. tapi, sebelum sampai ke
sana, mari kita jejerkan terlatih pada pola serupa yang terdapat pada tertuduh, terdakwa,
terhukum, tergugat.
dakwa--mendakwa--pendakwa--terdakwa--dakwaan
tuduh--menuduh--penuduh--tertuduh--tuduhan
hukum--menghukum--penghukum--terhukum--hukuman
gugat--menggugat--penggugat--tergugat--gugatan
terdakwa adalah sebutan yang diberikan kepada seseorang yang sedang menghadapi dakwaan.
ketika proses pendakwaan telah selesai dan dakwaan yang dikenakan padanya terbukti secara
mutlak melampaui segala keraguan maka kepadanya dikenakan sebutan baru: terpidana. hal yang
sama juga berlalu untuk sebutan tertuduh.
terpidana adalah sebutan yang diberikan kepada seorang yang sedang menjalani hukuman pidana.
ketika masa hukuman telah selesai dijalani maka kepadanya diberikan sebutan baru: terbebas.
tergugat adalah sebutan yang diberikan kepada seorang yang sedang menghadapi gugatan.
ketika proses penggugatan telah selesai dan gugatan yang dikenakan kepadanya terbukti secara
mutlak melampaui segala keraguan maka kepadanya dikenakan sebutan baru: terhukum.
sementara, penggugat adalah sebutan yang diberikan kepada seseorang yang mengajukan
gugatan. ketika gugatan yang diajukan terbukti secara mutlak melampaui segala keraguan dan
karenanya dia berhak mendapat ganti-rugi maka kepadanya dikenakan sebutan baru: terimbal.
dengan demikian, terlatih adalah sebutan yang diberikan kepada seseorang yang sedang menjalani
latihan. ketika proses pelatihan yang dia jalani telah selesai maka kepadanya dikenakan status baru:
.......?
nah, persoalan sebenar ternyata bukan terletak pada pencarian padanan untuk trainee, tapi
mencari padanan untuk trained. frasa :kaum terdidik: dan :pasukan terlatih: agaknya disodorkan
untuk menjadi padanan bagi educated people dan trained army. padahal, jika merujuk contoh di
atas, kaum terdidik seharusnya berarti kaum yang sedang dididik, dan pasukan terlatih seharusnya
berarti pasukan yang sedang dilatih.
lalu, bagaimana halnya dengan terlaksana, teraih, tekerjakan, terdaki? walau mengesankan bentuk
lampau namun tekanan yang ingin disampaikan oleh kata-kata tersebut adalah sebuah keupayaan,
pencapaian, dan kesudahan, dan biasanya berlangsung dalam kalimat pasif.
tugas itu akhirnya tekerjakan juga olehnya
apa yang direncanakan akhirnya terlaksana.
gunung itu terdaki olehnya
bentuk yang terakhir ini mengilhami kita untuk menghasilkan pengertian ganda kepada kata
tertuduh maupun terpidana:
walau memakan waktu lama, tersangka itu akhirnya tertuduh oleh polisi.
tertuduh itu melakukan pembelaan secara sengit.
meski pada mulanya berbelit-belit, tertuduh itu akhirnya terpidana oleh jaksa.
terpidana menundukkan wajah ketika digiring ke luar ruang sidang.
jadi, apa padanan bagi trained army dan educated people? jika mengacu pada kebercampuran
waktu lampau dengan waktu sekarang yang tertemukan pada contoh di atas, agaknya terlatih pun
dimungkinkan untuk memiliki pengertian ganda, demikian juga dengan terdidik. tapi, selain
menyerah pada pasukan terlatih dan kaum terdidik, kenapa kita tidak mencari istilah lain
sebagaimana kita telah dengan cerdas melakukannya untuk tersangka yang menjadi tertuduh,
berlanjut menjadi terdakwa, untuk kemudian berakhir sebagai terhukum atau terbebas? atau,
kenapa tak mencobanya dengan bentuk sederhana yang lain: kaum berpendidikan, dan pasukan
berpelatihan?
pada kebudayaan barat, waktu adalah sebuah garis yang bergerak dari masa lampau ke masa
datang. pada kebudayaan timur, terutama buddhisme dan hindu, waktu adalah sebuah siklus:
lahir-mati-lahir kembali. karenanya, dalam bahasa indonesia, kemarin dan esok bertemu sekaligus
bercampur di hari ini (saya akan membahasnya di kali mendatang). pertanyaan: apakah kita akan
melenyapkan jiwa serta keasasian timur yang terdapat dalam bahasa indonesia untuk bersatu di
bawah payung universalisme menara babel yang ditawarkan bahasa-bahasa barat?
